Sabtu, 24 Juli 2010

Puasa Dapat Menyembuhkan Berbagai Macam Penyakit

Boleh percaya, boleh juga tidak. Tapi kalau aku sih percaya banget, kalau puasa dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit. Karena semua itu memang pernah terjadi dalam hidupku dan juga kehidupan orang-orang terdekatku. Jadi tak ada alasan sedikitpun bagiku untuk tidak berpuasa seharipun di Bulan Ramadhan nanti. Tentu saja bukan karena itu, aku berpuasa. Karena puasa memang sudah mejadi salah satu kewajibanku sebagai seorang muslim.

Ini cerita tentang orang terdekatku. Dua tahun setelah aku menikah, atau tahun 1990, mertua laki, kini sudah almarhum sakit asma. Kalau sudah kambuh, napasnya sesak. Jangankan dengan hindung, bernapas dengan mulut saja susah. Yang terlihat hanya gerakan tubuhnya. Mau ke dokter tak punya uang. Keuanganku saat itu masih kacau, hingga tak mampu membantunya. Akhirnya dia hanya pergi ke mantri suntik, dengan bayaran seadanya.

Karena tidak mendapat perawatan yang baik, maka mertuaku sering kambuh. Bahkan berkali-kali dia seperti sudah tak bernapas lagi. Beberapa anggota keluarga dan juga tetangga berkumpul di rumah. Banyak diantara mereka yang menduga umurnya tidak akan panjang, karena kondisinya saat itu. Namun karena belum saatnya, akhirnya mertuaku bisa bertahan dan terbebas dari penyakitnya.

Begitu seterusnya, penyakit itu sering kambuh. Apalagi mertuaku sering bangun malam, untuk mengaji dari jam dua hingga menjelang subuh. Tetapi entah mengapa, mertuaku mengambil sebuah keputusan, berpuasa. Kalau sembuh, dia akan puasa terus, begitu nadarnya. Hingga menjelang wafat dua tahun yang lalu, dia tetap berpuasa, hanya hari raya saja tidak.

Tahun 2007 lalu, istriku sakit maag. Kalau sudah kambuh, aku kasihan sekali. Dia selalu mengerang kesakitan. Kepalanya sering pusing. Perutnya juga sering mual-mual, mau muntah. Jangankan makan banyak, baru sedikit saja sudah keluar lagi. Berkali-kali berobat ke dokter, dengan obat tradisional, bahkan pernah dirawat, tapi tetap saja penyakit itu sering kambuh. Karena penyakit itu, badanya kurus sekali.

Tiba Bulan Ramadhan, dia bingung sekali. Mau puasa, takut penyakitnya kambuh. Tidak puasa, takut dosa, karena tidak menjalankan kewajibannya. Diapun minta pendapatku. Dengan pertimbangan kewajiban, aku sarankan untuk berpuasa. Apa yang terjadi berikutnya. Penyakit maagnya sembuh. Hingga sekarang, penyakit itu tidak pernah kambuh lagi. Semoga selamanya tidak datang lagi, termasuk penyakit yang lain.

Ini terjadi dalam hidupku. Tahun lalu aku sakit. Entah mengapa napasku sering sesak. Badanpun kadang panas, kadang dingin. Kata dokter, aku kecapean. Aku disarankan untuk istirahat. Dengan memakan obat darinya, ternyata penyakitku tidak sembuh. Akupun berobat ke beberapa dokter lain, tapi ternyata penyakit itu tidak sembuh juga. Demikian juga dengan obat kampung.

Untunglah salah seorang temanku menduga mungkin kamu kena panas dalam. Biasanya suka ada benjolan pada tenggorokan, saluran percernaan dan saluran lainnya. Panas dalam itu berawal dari makanan, sambungnya. Saat itupula, aku ingat pada mertua dan istriku. Akhirnya akupun mengikuti jejak keduanya. Dengan sepuluh hari puasa, ternyata penyakitku sembuh. Sejak saat itu, aku percaya seratus persen bahwa puasa dapat menyembuhkan berbagai penyakit. Itupula yang sering aku sarankan kepada teman-temanku.

Selamat menunaikan ibadah puasa. Semoga kita dapat melaksanakannya dengan baik.

Surat Cinta Terakhir

Kasih boleh selalu mengalah pada Cinta, adik kesayangannya. Namun tidak dengan yang satu ini. Doni, cowok Kasih tidak mungkin diserahkannya. Dia sangat mencintai cowok yang dikenal sejak SMA dulu, demikian juga sebaliknya. Karena itu, cewek yang kini kuliah di Bandung tetap pada pendiriannya, apapun yang terjadi. Perasaan itu tidak bisa dibohongi, bisik hatinya.

Cinta tak menyerah begitu saja. Dia terus berusaha mendekati Doni dengan mencuri setiap kesempatan, terutama saat Doni datang ke rumah. Kasih yang tidak setiap hari ada di rumah marah besar. Pertengkaran tak bisa dihindarkan, hingga Cinta pingsan. Pak Adam dan istrinya bingung. Entah apa yang dilakukannya. Mereka sangat menyayangi kedua anaknya.

Meski Kasih marah besar, Cinta tetap pada pendiriannya. Dia harus mendapatkan setiap keinginanya. Entah apa yang ada dalam diri anak yang kini duduk di kelas 3 SMU ini. Kejadian serupa terjadi berulang-ulang dan berakibat Cinta pingsan. Pak Adam dan istrinya semakin bingung. Cinta akhirnya masuk rumah sakit. Sedangkan Kasih harus pergi ke Bandung.

Tanpa diketahui Kasih, ternyata Cinta menderita kangker otak. Umurnya hanya tersisa tiga bulan. Pak Adam dan istrinya sangat sedih, tidak rela rasanya ditinggal oleh anak yang sangat dikasihinya. Namun mereka juga tidak mau terus terang pada Kasih. Mereka tidak mau mengganggu perkuliahan Kasih. Terlebih lagi mereka harus tetap bersikap adil pada kedua anaknya.

Hingga tibalah pada saatnya. Cinta masuk rumah sakit. Betapa sedihnya saat anak keduanya itu mengerang kesakitan. Mereka berusaha menghibur dan mengatakan semua akan baik-baik saja. Namun Cinta sudah mengetahui penyakitnya dan hari itu menrupakan hari terakhirnya. Betul saja, hari itu memang hari terakhir bagi Cinta, meski dua orang dokter telah berusaha.

Kasih tak sempat melihat saat-saat terakhir hidup Cinta. Namun dia tak percaya kalau adiknya memang sudah pergi untuk selama-lamanya. Hanya sesal dalam hati. Andai saja dia tahu kalau Cinta mengidap penyakit itu, mungkin dia akan merelakan Doni. Kini hanya ada satu yang dipegangnya, sebuah surat dari Cinta. Surat terakhir, ya... surat terakhir dari Cinta.

Buat Kak Kasih

Saat kakak membaca surat ini, mungkin Cinta sudah tiada. Namun kakak tidak perlu sedih, karena masih ada mama dan papa. Cinta juga telah menginggalkan kenangan indah. Kenangan yang tidak mungkin dilupakan sepanjang hidup kakak. Canda, tawa, suka dan semua yang ada dalam diri Cinta akan menjadi obat disaat kakak merindukan Cinta.

Sebenarnya Cinta juga tidak mau perpisahan ini. Namun Tuhan berkehendak lain. Bukan karena Dia benci sama kakak, tapi karena Dia menyayangi Cinta. Dia tidak menghendaki Cinta menderita dengan menahan rasa sakit yang berkepanjangan. Cinta yakin, itulah jalan yang terbaik bagi Cinta. Karena Dia selalu memberikan yang terbaik bagi umatnya.

Kakak tidak perlu menyesal dengan semua yang telah dilakukan selama ini. Karena Cinta yakin kalau semua itu akan menjadi keinginan Cinta yang terakhir. Cinta ngerti kalau perasaan itu tidak bisa dibohongi. Cinta tahu kalau kakak sangat mencintai Kak Doni, demikian juga sebaliknya. Tak mungkin kakak akan menyerahkan Kak Doni sama Cinta.

Kakak juga tidak perlu minta maaf. Sebelum napas ini berakhir, Cinta sudah memaafkan kakak. Justru Cinta-lah yang harus minta maaf. Karena selama ini telah membuat kakak resah dengan meminta sesuatu yang tidak mungkin kakak berikan. Yang pasti kehadiran Cinta telah mengganggu hubungan kalian. Itulah kesalahan Cinta selama ini.

Kini Cinta telah pergi. Tentu tak akan ada lagi yang mengganggu hubungan kakak dengan Kak Doni. Tak akan ada lagi yang meminta Kak Doni sama kaka. Kak Doni akan menjadi milik kaka selamanya. Satu permintaan Cinta. Sayangilah Kak Doni. Karena Cinta yakin kalau Kak Doni itu orang baik. Cinta berdoa semoga cinta kakak abadi. Selamat tinggal, Kak.

Salam buat mama dan papa

Cinta

Naskah Cerita Remaja SMU - Nyanyian Rindu Untuk Anisa

Anisa, seorang siswa SMU lebih suka naik ojek, daripada harus duduk di belakang Darman. Selain suka mengganggunya, berandalan itu juga hampir menodai Mila, kakaknya. Namun semua itu terpaksa, karena dia pulang tepat magrib. Tukang ojek sudah tak nongkrong lagi di pangkalannya. Dengan perasaan takut, dia melaju di kegelapan malam. Ketakutan semakin memuncak ketika melewati sebuah gubug ditengah sawah, tempat dimana Mila hampir dinodai.

Ibunya sangat cemas. Kecemasan segera sirna saat pintu depan terbuka. Namun dia sangat terkejut ketika mendengar anak kesayangannya pulang dengan Darman. Latar belakang Darman, tentu saja itu yang menjadi penyebabnya. Dia ingatkan agar jika ada pelajaran tambahan, Anisa memberi tahu, hingga saat pulang bisa dijemput Kang Burhan, kakak iparnya atau Anisa sendiri yang akan membawa motor, hingga bisa pulang lebih cepat.

Keberhasilan Darman disampaikan kepada teman-temanya. Namun hal itu tidak dipercaya, hingga dia harus membuktikannya. Esok harinya niat itu dilakukan di hadapan teman-temannya. Saya Darman tak bisa membuktikan, Anisa lebih suka memilih tukang ojek. Tentu saja, kejadian itu membuat Darman kecewa. Dalam hati, dia berniat akan mencari berbagai cara, agar bisa menaklukan Anisa dan membuktikan kepada teman-temannya.

Sial bagi berandalan itu, karena saat itu Andi seorang mahasiswa datang. Andi telah memilih tempat itu sebagai lokasi penelitiannya, tentang analisa dampak lingkungan. Baru beberapa hari, cowok ganteng sudah dekat dengan Anisa, kebetulan Andi yang tingga di Rumah Ketua RT berdekatan dengan Rumah Anisa. Darman geram bukan main. Belum berhasil hati Anisa, sudah dapat saingan baru. Tentu saja situasi itu sangat berat bagi perjuangannya.

Berbagai cara dilakukan berandalan itu dengan teman-temannya. Aksi itu sangat mengganggu aktivitas Andi dan berkali nyawa Andi terancam. Namun Andi bukan orang sembarangan. Dia menghadapi dengan jantan, hingga aksi Darman selalu bisa dipatahkan. Hingga akhirnya Andi menghilang entah kemana. Dua hari kemudian seseorang mengabarkan bahwa Andi diculik. Tuduhan pertama penculikan itu tertuju pada Darman. Darman menjadi DPO polisi.

Nah itulah sebagain ringkasan ceritanya. Lalu benarkah Darman pelakunya, atau ada pihak lain yang sengaja menafaatkan keadaan. Dimakah Andi disekap dan apakah Andi bisa selamat. Bagaimana usaha aparat pemerintahan setempat menghadapi masalah ini. Berhasil kepolisisian menangkap sang pelaku. Cerita ini tak sampai disitu, karena judul naskah ini adalah Nyanyian Rindu.

Oom Genit

Oleh: Ika Maya Susanti

“Len, nanti pulang sekolah, temani aku ke mall, yuk! Mau cari kado buat adikku,” ajakku pada Leni, teman sebangku yang juga teman dekatku.

“Aduh, aku udah janji sama Mas Fandi. Sebetulnya nanti kami ke mall juga. Atau… bagaimana kalau bareng saja,” Leni justru ganti mengajakku.

Aku langsung menggeleng. “Ih, nggak enak banget kalau kayak begitu. Aku jadi obat nyamuknya dong!” seruku menolak.

“Ye… ya nggak lah. Yuk!”

Tapi sekali ini aku mengibaskan tangan tanda benar-benar tak ingin. “Nggak ah, nggak asik! Aku sendirian saja ntar,” aku lalu memilih pergi berlalu dari hadapan Leni.

Jujur, akhir-akhir ini aku memang sering kesal dengan Leni. Sejak ia dekat dengan Mas Fandy, yang ia akui jadi pacarnya sekarang, Leni jadi jarang punya waktu untuk bersama denganku. Memang, aku merasa kehilangan Leni sekarang ini! Bukannya tidak ada teman yang lain, sih. Namun, aku merasa sudah begitu klop saja dengan Leni.

Namun sebetulnya sejak awal, aku merasa agak janggal dengan hubungan Leni dan Mas Fandy. Umur Leni sekarang masih 14 tahun. Kami masih duduk di bangku SMP. Tapi Mas Fandy, menurutku ia adalah pria dewasa. Selain itu yang aku tahu, ia saja sudah bekerja di sebuah bank swasta. Bahkan yang pernah kudengar dari Leni, umur Mas Fandy itu saja sudah 25 tahun. Beda jauh banget kan?!

“Ya kan nggak salah Vik. Sosoknya dia itu dewasa! Jadinya aku ini merasa terlindungi,” Leni langsung selalu membela diri jika aku mengungkit-ungkit tentang Mas Fandy yang umurnya beda jauh dengan Leni.

Entahlah, aku memang heran sekali dengan Leni sahabatku itu. Apakah karena cinta buta, atau memang ia sudah tahu bagaimana caranya memilih pacar yang benar? Ah… Aku sungguh bingung!

Akhirnya sepulang sekolah, aku pergi ke mall tanpa teman. Namun, ah, mengapa sih dunia ini begitu kecil? Di mall tempat aku mencari kado untuk adikku, aku malah melihat Leni sedang bergelanyut manja dengan Mas Fandy. Namun, ouch, entah kenapa kok aku jadi merasa risih waktu melihat Leni kala itu!

Pakaian dan dandanan Leni terlihat begitu dewasa. Mungkin orang yang tidak mengenalnya akan menyangka Leni sudah berusia 20-an. Sudah begitu gaya pacarannya, astaga…!!! Kok bisa jadi seperti itu sih kamu, Len?

Aku langsung berpaling dan pergi menjauhi keberadaan Leni dan Mas Fandy. Aku tidak ingin mereka tahu kalau aku juga ada di sini. Selain itu, aku jadi kecewa dan sedih pada Leni waktu melihat ulahnya dengan Mas Fandy. Di tempat umum seperti ini, mengapa mereka bisa tidak risih untuk bercumbu seperti itu ya? Ah, mungkin besok aku harus mengingatkan Leni. Biar bagaimanapun, aku menyayangi Leni sebagai sahabat dekatku!

“Vika! Ternyata kamu ada di sini juga ya?” sapa Leni mengejutkanku dari belakang.

Dan saat aku berpaling, aduh… kenapa aku harus berpapasan dengan mereka juga sih?!

“Eh, hai Len. Hehe, nggak nyangka juga ya kalau kita jadi ketemu di sini,” ujarku kikuk.

“Iya nih! Eh iya, kamu belum pernah aku kenalkan langsung ke Mas Fandi kan? Mas, ini Vika. Itu lho, teman dekatku yang sering aku ceritakan itu,” Leni mencoba memerkenalkan aku.

“Hai Mas,” sapaku. “Aku sudah sering tahu Mas dari cerita Leni kok.”

“Oh ini yang namanya Vika,” Mas Fandy lalu mengulurkan tangan. Aneh, jabatan tangannya terasa janggal saat menyentuh tanganku. Belum lagi tatapan matanya yang justru membuatku jadi merasa risih sendiri. Seketika, aku langsung berusaha menarik tanganku dengan kuat dari jabatan tangan Mas Fandy.

“Gimana, sudah ketemu barang yang kamu cari, Vik?” Leni bertanya.

“Belum Len. Mungkin besok saja aku cari lagi di tempat lain. Di sini nggak ada yang cocok sepertinya,” elakku. Huh, kalau nggak gara-gara aku melihat ulah kalian di mall yang menurutku tidak mengenakkan untuk dilihat itu, mungkin aku tidak akan seperti orang linglung sekarang ini!

“Atau, bagaimana kalau kita cari di mall lain saja?” tawar Mas Fandy.

“Ah nggak deh, terimakasih. Besok saya cari lagi saja sendiri,” jawabku namun dengan nada yang agak tidak enak untuk didengar. Entah kenapa perasaanku jadi tidak nyaman dengan sosok Mas Fandy.

“Ya sudah, kita ke kafe dulu saja yuk! Kelihatannya kamu capek. Saya lihat wajahmu kok pucat begitu. Yuk!” Mas Fandy kini ganti mengajakku dan Leni untuk ke kafe.

“Kita dari tadi kan belum istirahat ya, sayang. Kita ke kafe dulu saja. Setuju kan?” tawar Mas Fandy kepada Leni.

Dalam hati aku menggerutu. Huh, wajahku pucat ini gara-gara pusing melihat ulah kalian! Namun, aku sudah kehilangan akal untuk mengelak dari ajakan Mas Fandy. Karena Leni setuju, mau tak mau akhirnya aku pun menuruti ajakan tersebut.

Sepanjang jalan menuju kafe, benar-benar aku berjalan sebagai obat nyamuk di tengah mereka. Atau becak barangkali ya? Habisnya, mereka berdua asik dan cuek dengan mesranya berjalan sambil berpelukan di depanku. Sedangkan aku, berjalan sendiri di belakang mereka.

Saat di kafe, Leni langsung pamit ingin ke toilet. Sialan, kenapa aku ditinggal dengan Mas Fandy?! Aku tak henti merutuk dalam hati dan jadi merasa tidak nyaman.

“Kalian ini katanya teman dekat, ya?” Mas Fandy mulai bertanya-tanya ramah.

Aku mengangguk seadanya.

Saat aku melirik ke arah Mas Fandy, aku baru sadar kalau ia sedang asik memerhatikanku.

“Wah wah wah, cewek SMP zaman sekarang cantik-cantik yah! Nggak seperti zaman saya dulu. Culun-culun!” komentarnya yang membuatku kebingungan. Maksud orang ini apa sih?

“Eh Vika, boleh minta nomor Hp kamu nggak? Siapa tahu ada temanku yang ingin kenalan juga,” kata Mas Fandy yang membuat aku langsung melotot.

“Ha?! Oh, maaf yah, saya nggak minat sama om-om!” jawabku sinis yang membuat wajah Mas Fandy langsung memerah.

“Halah, sok jual mahal kamu! Kata Leni, kamu belum punya pacar kan? Ck ck… kasihan! Heh, jadi jomblo itu nggak usah sok deh!” seru Mas Fandy mengejek.

Aku lalu membuang muka. Rasanya jadi jijik aku berhadapan dengan orang ini. Uh, Leni mana sih? Aku lalu melihat ke arah toilet mencari-cari sosok Leni.

“Vik,” panggil Mas Fandy sambil memegang tanganku yang membuatku langsung terkejut.

“Eh ini orang! Kurang ajar banget sih!” ujarku dengan nada tinggi.

Mas Fandy langsung melotot. “Kamu itu ya, jadi cewek, masih kecil, jangan belagu! Bisa-bisa nanti kamu jadi perawan tua, tahu!” ancam Mas Fandy yang membuat aku langsung berdiri.

“Dasar om-om genit!” makiku. Karena sudah tidak tahan, aku memilih untuk pergi. Biar saja, urusan Leni, aku nanti akan sms ke dia.

Sampai di rumah, aku memilih langsung membaringkan tubuhku dan tidur. Kepalaku terasa pening. Terlintas dalam benakku kelebatan tubuh Leni dan Mas Fandy, maki-makian Mas Fandy dan rayuannya. Perutku langsung mual!

Tak terasa, tidurku ternyata cukup lama. Aku baru terbangun ketika mendengar suara Hp milikku yang berbunyi kencang.

“Hah, sudah pukul 9 malam? Lama betul ternyata tidurku!” gumamku saat melihat ke arah jam.

Saat ku cek layar Hpku, ternyata ada beberapa sms dan miscall di sana. Aku langsung membuka sms-sms dari Leni.

“Hi Vik, td kmna aj?kok kmu prgi gt aj?!kta M Fandy kmu skit y?makany td prgi.sori,aku skit prut jd lma d toilet,” sms dari Leni.

Aku langsung membalas sms tersebut. “Iy Len,kplaku skit.mknya aq pulng dluan.sori td g pmit,” jawabku.

Lalu aku mengecek Hp kembali dan ternyata ada satu sms dengan nomor yang tidak aku kenal.

“Alo cwek judes tp mnis.Kok telp dr aq g diangkt2?Ni M Fandy.Sory y kl td aq dah ngmong g enak k kmu,” aku langsung melotot. Hah, untuk apa orang ini telepon aku berkali-kali?! Belum sempat aku mengecek berapa kali Mas Fandy mencoba meneleponku, Hp yang ada di tanganku itu tiba-tiba berbunyi.

“Mas Fandy? Untuk apa orang ini malam-malam telepon aku?” aku terkejut.

“Halo,” ujarku setelah menekan tanda terima telepon.

“Hai Vika. Kok lama banget teleponku baru diangkat. Kamu sedang apa? Ini Mas Fandy. Aku benar-benar minta maaf lho atas kejadian tadi sore,” cerocos Mas Fandy.

“Ada apa, Mas?” tanyaku dengan nada ketus.

“Ya nggak ada apa-apa. Eh, kamu jangan mulai lagi ketus seperti itu dong. Aku kan cuma mau kenal kamu saja.” Kali ini meski aku sudah ketus terhadapnya, ternyata ia agak lebih lunak dari sore tadi.

“Hem. Iya, terus sekarang ini telepon mau apa? Saya tadi sudah sms kok ke Leni. Terimakasih sudah beritahu ke Leni kalau saya sedang sakit,” ujarku dengan nada kaku.

“Nah, begitu dong. Ada ucapan terimakasih, ada imbalan terimakasih juga kan?” ujar Mas Fandy yang sungguh sulit kumengerti.

“Maksudnya apa?” ujarku kembali dengan nada ketus.

“Yah, kamu mau kan kalau besok aku ajak jalan?” jawab Mas Fandy di seberang sana yang membuat perutku tiba-tiba kembali terasa mual.

“Ini orang emang kurang ajar!” makiku sambil menutup pembicaraan dengan menekan tombol di Hp.

Aku langsung teringat Leni. Ah, sepertinya harus secepatnya aku bicara dengan Leni. Cowok yang dianggapnya sebagai pacar ini ternyata memang bukan cowok baik-baik!

Hp di tanganku bergetar. Aku lihat ternyata ada sms yang masuk di sana. Saat ku buka, aduh, oh Tuhan… kenapa lagi sih dengan orang ini!

“Kl kmu tolak ajakan q,kmu akan lhat hal mmalukan trjdi pd tmnmu itu!aq pnya fto2 Leni yg aduhai,lho!” ternyata Mas Fandy malah mengancamku.

Aku langsung menonaktifkan Hp. Sungguh, aku jadi khawatir dengan diriku sendiri. Aku juga jadi ingat Leni. Ah, apa yang sudah engkau lakukan Len dengan Mas Fandy? Namun di tengah kekhawatiranku, aku mencoba berpikir waras. Ini tidak bisa dibiarkan begitu saja. Sebelum hal buruk terjadi lebih parah pada Leni, aku, atau gadis yang lain, aku harus menghentikannya.

Kupandangi Hpku yang kini sudah dalam keadaan mati. “Ah, untung semua sms dari Mas Fandy tadi masih ada di Hpku. Aku harus melaporkan Mas Fandy ke polisi!” tekadku. Besok, semuanya ini harus berakhir!

Permusuhan Ninuk dengan Nyamuk

Oleh: Ika Maya Susanti

“Sejak gigitan pertama yang meninggalkan rasa sakit, gatal berkepanjangan, dan bekas yang terpaksa menjadi tato sementara pada kulitku, aku, Ninuk Kusuma Wardhani atau yang biasa dipanggil Ninuk, berikrar untuk tidak akan pernah mengenal kata damai pada KAU, NYAMUK!!!” Mata Ninuk melotot geram sambil mengedarkan pandangan ke segala penjuru ruangan berukuran tiga kali empat meter.

Usai berikrar, Ninuk kemudian mengikatkan kepalanya dengan seutas kain panjang yang membuat poni yang biasa digunakan untuk menutup jidat yang menurutnya seperti lapangan sepak bola itu tersingkap untuk sementara waktu. Aku lantas melihatnya mengambil sebuah raket listrik yang kemudian ia pegang erat-erat di tangan kanannya.

“Maafkan aku laptop dan segenap tugas kuliahku. Kalian harus kutinggalkan untuk sementara waktu demi aksi pengenyahan para GPK, Gerakan Pengacau Kekhusyukan ini! Karena jika tidak, hidupku tidak akan tenteram, damai, sejahtera, dan sentosa malam ini!”

Berjurus kilat petir menebas pohon kelapa, Ninuk pun lantas mengibaskan raketnya ke segala penjuru ruangan kamar kami berdua. Matanya nyalang bagai radar yang mampu mengetahui di mana saja arah nyamuk yang sedang terbang dengan gaya melambai santai hingga yang terbang bergaya meroket bak siluman nyamuk.

Herannya, mata Ninuk seakan selalu tahu di mana saja nyamuk yang sedang berterbangan hilir mudik. Sesekali, suara “Krip krip!” terdengar dari raket yang digenggam Ninuk berikut percikan kecil sebagai tanda adanya nyamuk yang berhasil tersetrum karena kurang gesit terbang menghindar.

Namun lebih naasnya lagi adalah jika terdengar bunyi letusan yang lebih mirip suara petasan kecil namun lumayan mengejutkan. “Tarrr!!!” demikian bunyinya dengan percikan kilatan yang menyerupai bunga api orang yang sedang mengelas besi. Kalau ada yang seperti itu, berarti tandanya Ninuk berhasil mendapatkan nyamuk besar dan gendut yang sarat akan cairan merah kehitam-hitaman. Cairan apalagi kalau bukan setetes kecil darah yang berhasil dicuri si nyamuk dari tubuh manusia.

Jika suara “Krip-krip!” yang terdengar, senyuman Ninuk akan menyudut kecil, berbeda lagi jika yang berbunyi adalah “Tarrr!” Tak hanya senyum kemenangan, bahkan tawa lebar berikut umpatan kebun binatang sampai gaya preman di jalanan bisa keluar dari bibir Ninuk yang terkenal berwatak halus budi pekertinya itu. Ya, Ninuk yang lemah lembut dan seakan tidak pernah mampu membunuh semut itu akan berubah menjadi pemburu berdarah dingin jika melihat sesosok nyamuk saja yang terbang melintasinya atau tertangkap radar telinganya.

“Sudah dapat berapa Nuk?” aku melirik ke arah Ninuk yang asyik dengan sebatang lidi melepaskan mayat-mayat nyamuk yang bersalah karena menggoda Ninuk hingga terpanggang dalam setruman raket listrik.

“Lumayan, 12 ekor! Tapi sepertinya ini masih ada yang ngiung-ngiung nih suaranya! Ngeganggu banget di kuping!” sesekali mata Ninuk beredar ke penjuru kamar mencari nyamuk yang sedang berseriosa di kupingnya.

“Terus Nuk, kamu kapan mau belajar kalau kayak begini terus? Besok kan kita sama-sama punya tugas statistik yang harus dikumpulkan. Belum lagi tugas Pengantas Ilmu Ekonomi,” aku menyela di tengah kekhusyukan Ninuk yang belum ingin menghentikan aksi gencatan raketnya dengan para nyamuk di kamar kami.

“Nggak bisa Tan! Ini adalah tugas wajib yang justru harus dikerjakan lebih dulu malam ini!” Ninuk mengabaikan peringatanku dan kembali mengibaskan raketnya ke sana ke mari.

Yah, itulah sekilas gambaranku saat ini dengan apa yang sedang terjadi di alam realitaku sekarang. Sejak sekamar kos dengan Ninuk yang paling alergi dengan nyamuk, hidupku kini jadi penuh warna warni dinamika hubungan perseteruan antara manusia dengan nyamuk. Fatalnya, kami tinggal di Surabaya yang sejak kejadian lumpur Lapindo, terasa makin panas dan nyamuk yang ada pun serasa makin urakan dan ganas.

Memang, Ninuk sahabatku itu sangat berbeda sekali dengan aku, atau mungkin kebanyakan manusia. Aku bisa bilang kebanyakan manusia karena pada umumnya manusia memang wajar menerima keberadaan nyamuk meski mereka tidak bersahabat. Sudah mengambil setetes darah, nyamuk juga hobi meninggalkan rasa gatal bercampur sakit pada kulit manusia.

Namun jika umumnya manusia hanya sekejap saja merasakan gatal dan sakit akibat gigitan nyamuk, berbeda dengan apa yang dialami oleh Ninuk atau mungkin sedikit orang yang ada di muka bumi ini. Rasa gatal dan perih bisa Ninuk rasakan berhari-hari. Belum lagi bekas gigitannya yang mulai dari berwujud bentolan merah besar jika nyamuk habis menggigit kulitnya hingga berangsur menjadi bintik merah. Konon kata Ninuk, gatalnya terasa minta ampun menggoda jarinya hingga ia harus giat menggaruk bekas gigitan itu. Bintik merah yang awalnya hampir tidak kelihatan itupun kemudian akan berubah menjadi luka akibat garukan kuku-kuku Ninuk. Dan jika sudah seperti itu, bekas hitam pun akan menyisa di kulit Ninuk. Berakhir tragis memang! Ninuk yang seharusnya bangga memiliki kulit halus mulus seperti kebanyakan cewek seusianya, harus memiliki kulit yang justru berbelang-belang hitam.

Pernah suatu ketika Ninuk berkonsultasi ke dokter spesialis kulit dan pulang dengan kekecewaan putus asa berkepanjangan. Setelah berkonsultasi dengan dokter tersebut, Ninuk justru disarankan untuk membeli sebuah lotion yang harganya lumayan wah. Meskipun konon katanya, lotion itu mampu menghilangkan bekas gigitan nyamuk yang berwarna bintik-bintik merah atau bekas garukan yang berwarna belang-belang hitam dalam hitungan hari. Tujuan Ninuk datang ke dokter spesialis kulit berharap bisa menjadi manusia normal yang tidak paranoid terhadap nyamuk untuk selamanya, harus kandas begitu saja!

Kebalikan dari Ninuk, aku justru memiliki kulit yang sangat kusyukuri kekebalannya terhadap nyamuk. Tidak bermasalah seperti kulit milik Ninuk. Bisa dibilang kulit badaklah! Jika nyamuk menggigit kulitku, aku cuma sedikit merasakan gatal dan selesailah sudah. Tidak ada rasa gatal campur pedih berkepanjangan atau bekas yang tertinggal lama di kulitku. Bahkan jika nyamuk menggigit kulitku, aku sering tidak merasakannya.

Aneh memang jika aku sedang bersama Ninuk atau jika kami sedang bersama beberapa orang lainnya. Ninuk justru kerap menjadi target idola utama gigitan nyamuk sedangkan tidak bagi aku dan mungkin orang lain yang sedang berada di sekitar kami. Jika sedang menyaksikan tivi misalnya di ruang tengah kos-an kami, Ninuk sering mendahului acara garuk menggaruk akibat digigit nyamuk. Sering pula aku ataupun yang lainnya jadi keheranan karena sementara tidak ada satupun nyamuk yang menggigit kami, Ninuk justru sudah sibuk sendirian mengusir nyamuk hingga acara heboh menggaruk-garuk karena merasa kegatalan akibat digigit nyamuk.

Nah, jika para cewek selalu dekat dengan yang namanya krim tabir surya, Ninuk justru tidak bisa lepas dengan yang namanya lotion anti nyamuk. Ke manapun dan di manapun, parfum yang tercium dari tubuh Ninuk cuma satu, parfum khas lotion anti nyamuk.

Naasnya, Ninuk sekamar dengan aku yang alergi dengan segala bau-bauan yang keluar dari obat anti nyamuk. Mulai dari semprotan spray, obat nyamuk bakar, obat nyamuk elektrik, sampai terkadang lotion anti nyamuk. Entah kenapa, sejak kecil, aku begitu anti dengan bau-bauan itu. Meskipun versinya obat anti nyamuk itu makin hari makin harum bak bau bunga aslinya, tetap saja, aku tidak tahan dan bahkan bisa muntah jika menciumnya. Beruntung aku tidak mengalami alergi dengan nyamuk seperti Ninuk sehingga tidak harus bersentuhan dengan barang-barang anti nyamuk seperti itu.

Sebagai wujud solidaritasnya, Ninuk akhirnya cuma memiliki sebuah modal untuk mengusir nyamuk jika kami berdua sedang berada di kamar. Apalagi kalau bukan raket elektrik andalannya yang sekali tebas, bisa mengenai nyamuk yang hobi terbang melayang-layang mencari mangsa. Raket ini memang cukup aman menurut kami berdua. Paling-paling, kami terkadang hanya sedikit terkejut jika nyamuk besar yang sempat kena, mengeluarkan bunyi letusan kecil dan bau gosong yang menguar akibat adanya nyamuk yang tersangkut raket dan terbakar gara-gara terkena sengatan listrik.

“Heah… heah… heah… Hei, heah… heah… ngapain sih dari tadi senyam senyum melulu sambil ngelihatin aku? Heah… heah… Bahagia ya melihat aku harus berjibaku membunuh nyamuk ke sana ke mari?” sembur Ninuk sambil sesekali ngos-ngosan karena kelelahan mengejar nyamuk ke segala penjuru sudut kamar. Rupanya ia merasa jika aku yang dari tadi asyik dengan laptopku sendiri, kurang memiliki rasa solidaritas terhadapnya.

“Ya habis mau bagaimana lagi? Raket listrik cuma satu. Aku nggak bisa bantu kami berburu nyamuk dong! Akhirnya ya… aku bantu doa saja dari dalam hatiku ini sambil duduk manis di sini ngeblog,” jawanku enteng.

Ninuk lalu menjatuhkan tubuhnya di sampingku. Nafasnya masih memburu, dan keringat pun bercucuran dari tubuhnya. “Aduh… sudah habis belum ya tu nyamuk?” gerutu Ninuk.

Baru sebentar saja suara keluhan Ninuk keluar, seekor nyamuk lewat di dekat kami dengan suara ejekan khasnya. Ninuk pun langsung bangkit dan memburu nyamuk yang mungkin berkata, “Hei hei… aku masih ada di sini lho! Ayo, tangkaplah aku, kau kugoda…”

Sesaat aku menghentikan aktivitas ngeblogku, sekilas mengamati keberadaan Ninuk, dan kembali meneruskan mengetik. Yah, sampai tulisan ini diketikkan, ternyata masih belum ada tanda-tanda kapan pertikaian antara Ninuk dengan para nyamuk akan berakhir!

“Oh nyamuk… kasihanilah Ninuk malam ini dan hari-hari berikutnya… Biarkanlah ia bisa merasakan hidup tenang seperti laiknya manusia pada umumnya…” doaku tulus terucap di bibir dari relung hati paling dalam sebagai sahabat Ninuk yang paling mengerti penderitaannya.

“Nuk,” panggilku dan Ninuk pun kemudian menoleh ke arahku, tampak tersenyum penuh rasa haru. “Lanjutkan perjuanganmu!” pesanku sambil mengepalkan tangan kanan memberi semangat kepada Ninuk dan kembali menekuni laptopku. Suara Ninuk lantas kudengar menjerit keki!

Riri atau Yiyi

Oleh: Ika Maya Susanti

“Perkenalkan, nama saya Yina Matha. Panggil saja Yiyi. Maaf, ejaannya dengan huruf…,” aku lalu membentuk huruf R dengan kedua tanganku.

Mataku menyapu ke arah teman-teman di kelas tingkat awal di SMA yang merupakan kelas baruku tersebut. Tampaknya, mereka mulai kebingungan dengan caraku memperkenalkan diri. Aku tersenyum lebar, bergegas mengambil spidol, dan menuliskan kata RIRI dan RINA MARTHA besar-besar di bidang white board.

“Ooo…” koor serempak dari seisi kelas mulai terdengar. Sedikit kasak kusuk pun sempat mampir di telingaku ketika aku kembali ke bangku tempatku duduk.

“Eh, dia cadel ya?”

“Iya, cantik sih anaknya. Tapi kok cadel ya? Hihihi…”

“Psst… keras banget sih ngomongnya! Kasihan, nanti dia dengar lho!” timpal yang lain.

Aku cuma tersenyum ringan. Buatku, apa yang baru saja aku alami di kelas baruku dalam sesi perkenalan siswa baru itu kini sudah bisa membuatku bereaksi biasa. Juga sudah sama biasanya ketika ada teman-teman yang mengolok-olok dengan terang-terangan. Sudah kebal deh sepertinya rasa kuping dan hatiku ini. Misalnya seperti ini nih dulu yang aku alami sewaktu SMP…

“Tayi, denga-denga kamu lagi pacayan sama Yadit ya?”

“Iih… kok ngomong jorok sih? Nama bagus-bagus Tari kok jadi dipanggil begitu?”

“Iya nih, udah gede kok masih cadel!”

“Coba diulang! Bilangnya begini nih, Tarri, dengarr-dengarr kamu lagi pacarran sama Rradit ya? Gitu dong bilangnya…” timpal temanku yang lain tak mau kalah mengolok-olok dengan menekankan setiap huruf R yang diucapkannya.

Kalau urusan diejek seperti itu, seperti ketika aku duduk di bangku SD atau SMP dulu, bisa dibilang aku sudah cukup kebal. Tapi ada masanya juga lho dulu kadang aku bisa nangis sejadi-jadinya kalau harus mendengar ejekan nggak mengenakkan dari teman-temanku yang kebanyakan lebih suka menertawakan kekuranganku daripada menerima kondisiku.

Pernah suatu ketika pas SMP, guruku sedang mengadakan audisi untuk mencari siapa di antara kami yang duduk di kelas dua waktu itu, yang bisa mewakili sekolah untuk mengikuti lomba puisi di tingkat daerah.

Pas guru bahasa Indonesiaku masuk ke dalam kelas, teman-teman sudah langsung mendahului dengan mengatakan seperti ini, “Wah, audisi ini kayaknya punya perkecualian nih! Rrirri… karrena kamu kan pastinya nggak bisa memenangkan audisi, lebih baik sekarrang, kamu menyaksikan kami saja deh yang akan ikut audisi. Gimana?” ujar seorang temanku dengan nada bercanda namun cukup menusuk hatiku.

Senyum tipis aku tunjukkan di antara tumpahan air yang berdesakan ingin keluar dari mataku. Ah, itulah setidaknya sedikit dari sekian pengalaman yang masih aku simpan kesan rasa sakitnya.

Dulu, jika ingat masa-masa sewaktu aku kecil, ketika umurku sudah menginjak empat tahun, aku atau orangtuaku masih bisa santai-santai saja ketika aku belum bisa melafalkan huruf R dengan jelas.

Tapi waktu aku sudah berumur tujuh tahun, saat orangtuaku mulai memasukkan aku ke SD, kepanikan kami pun mulai terjadi. Yang aku sempat rasakan, orangtuaku waktu itu agak malu dengan kekurangan putri satu-satunya itu.

Tapi seiring waktu, yang aku lupa tepatnya kapan, sepertinya mereka jadi sering mengikutsertakan aku ke berbagai kegiatan ini itu. Les menari, les melukis, les biola, sampai berbagai macam les lainnya yang aku sendiri sampai lupa. Habisnya, banyak banget lesnya!

Tentu saja dari sekian banyak les tersebut, orangtuaku tidak akan mengarahkan aku untuk ikut les yang mengandalkan kemampuan bicaraku. Les paduan suara atau les teater misalnya. Ya begitulah, karena aku cadel!

Meskipun akhirnya ada beberapa les yang aku tekuni, hingga membuat aku bisa menguasai beberapa keahlian, tetap saja aku sering minder.

Misalnya nih kalau sekolahku mengikutsertakan aku ke berbagai lomba atau acara, meski awalnya Pe-De, tetap saja kalau akhirnya ada urusan cuap-cuap, aku langsung ketakutan setengah mati. Rasanya takut sekali kalau sampai ada orang yang tahu aku cadel terus mengolok-olokku habis-habisan.

Ada lagi nih cerita yang menyedihkan yaitu ketika aku duduk di bangku SMP. Ceritanya, ada tetanggaku yang punya anak cewek sebayaku dan entah kenapa, ia selalu suka mengolok-olokku habis-habisan. Kebetulan, Nana, nama anak cewek itu, selalu bisa satu sekolah denganku. Dan dari dialah, orang-orang di seantero sekolah akhirnya selalu tahu kalau aku ini cadel. Kayaknya dia nggak puas banget deh kalau cuma orang sekelas saja atau beberapa orang saja yang tahu kalau aku ini cadel.

Usut punya usut, ternyata dia iri dengan beberapa kelebihan yang aku miliki. Anaknya sih sebetulnya cantik. Meski aku juga cantik, itu kata teman-teman lho! Tapi aku akui, tetanggaku ini memang sedikit lebih cantik dari aku.

Yah, apa mungkin nggak semua orang yang diberi kelebihan selalu mensyukurinya ya? Jadi ternyata menurut beberapa temanku, Nana itu selalu tidak terima ketika sekolah kami sering memilih aku untuk maju mewakili lomba atau acara ini itu di luar sekolah.

Oke deh, untuk urusan sering memberitahu ke seantero sekolah kalau aku itu cadel masih bisa aku terima. Hiks, meskipun rasanya kok tega banget sih! Tapi, pernah suatu ketika ia membeli seekor anjing yang kemudian diberi nama… Yiyi!

Ih, rasanya sengaja menghina banget kan nih orang?! Masa, ketika jalan-jalan di taman komplek, dia memanggil keras-keras nama anjingnya itu. “Yiyi… yiyi…”

Aku yang awalnya belum tahu kalau nama anjingnya itu Yiyi, kontan waktu itu menjawab dengan “Hai, ada apa…” Yah, aku pikir si tetangga ini memang sengaja memanggilku karena yang aku tahu, ia memang sering sengaja memanggilku yang kadang dengan maksud setengah mengejek, memanggilku dengan nama cadelku.

Tapi ketika aku sudah menyahut, eh… dengan enaknya ia langsung menjawab, “Oh sori ya, aku sedang memanggil anjingku. Uhm, namamu bukannya Rrirri? Bukan Yiyi, kan? Kenapa menyahut?” jawabnya tanpa berdosa. Apalagi ketika dilihatnya orang-orang di sekitar kami yang menyadari kelucuan dari kejadian itu pun jadi ikut-ikutan menertawakan diriku.

Akhirnya sepulang dari taman, aku yang sudah tidak kuat menahan sekian lama berbagai penderitaan dan penghinaan yang aku alami, ehem, sedikit didramatisir, kemudian mengadu dan protes kepada mama.

“Mama, kenapa sih Yiyi dulu waktu kecil nggak dipaksa suka makan pedas. Sekayang kayak begini nih jadinya. Hu hu hu…” aduku sambil menangis tersedu-sedu.

“Sayang, mama sudah pernah mencoba memeriksakan Riri ke dokter dulu sewaktu kecil. Kata dokter, ada kelainan ukuran lidah Riri yang membuat Riri jadinya cadel sampai sekarang. Jadi, itu bukan karena Riri nggak suka makan pedas kok.”

Aku masih cemberut tidak terima. “Oke deh, tapi teyus kenapa sih Yiyi kok dulu dikasih nama Yiyi. Ini benar-benar menyulitkan Yiyi sendiyi jadinya. Masa manggil nama sendiyi saja susah?!”

Mama sejenak menghela nafas. “Aduh maaf ya Ri, padahal mama dan papa dulu memberikan namamu itu karena ada artinya lho, nggak sembarangan. Jadi mana tahu kalau ternyata jadinya seperti ini sekarang,” mama jadi salah tingkah menghadapiku.

Seketika aku langsung menghentikan tangisku. Jujur, seumur-umur hingga aku duduk di bangku SMP waktu itu, aku belum tahu arti namaku sendiri itu apa.

Mama pun dengan lemah lembut mencoba menjelaskan apa yang dulu pernah menjadi harapannya dengan papa atas diriku, sekarang dan nanti. “Rina itu kalau dalam bahasa Jawa artinya hari, dan Martha itu artinya yang berkuasa. Karena papa dan mama dulu susah punya anak, sekalinya ada kamu, ya kami merasa seperti ada kekuasaan Tuhan yang tiba-tiba memberikan kamu kepada kami. Nah, apa iya sekarang kami atau kamu harus menyesali nama yang begitu punya arti itu?”

Aku jadi tertegun mendengarkannya. Jadi namaku bukan sembarangan ya artinya? Ah, aku jadi menyesal waktu itu jika mengingat sikap dan pikiranku selama ini.

“Sekarang ganti mama yang tanya, kenapa hayo kamu selalu minder dan malu sama kekurangan kamu? Padahal, banyak lho kelebihan yang kamu punya. Demi mama, demi papa, dan juga demi kamu sendiri, mau nggak mulai sekarang kamu percaya diri? Dianggap lewat saja deh kalau ada orang yang mengolok-olok kamu…”

Aku kembali cuma bisa terdiam. Ah, ternyata ketika aku belum menunjukkan kekuranganku yang cadel itu, Mama dan Papa sudah menumpukan sebuah harapan besar untukku. Lalu, mengapa aku malah mengecewakan mereka dengan keterpurukanku pada kekuranganku itu saja?

Lalu seperti sebuah tumbukan yang mengandung pegas, walah, kok jadi ngomongin fisika ya, aku kemudian melesat meninggalkan seorang Riri yang dulunya memang malu karena cadel, menjadi seorang Riri yang tidak takut lagi untuk malu karena cadel!

Lantas aku berpikir, ah, memang benar kok, sebetulnya banyak kan bidang lain yang tidak memerlukan kelihaian untuk berbicara? Toh, model iklan di video klipnya Letto di lagu Sebelum Cahaya itu juga malah bisu dan tuli kok. Tapi dia bisa jadi model.

Sejak itu mulailah aku mencari bidang-bidang yang bisa aku geluti, yang aku sukai, yang bisa aku jadikan sebagai ajang untuk mengejar prestasi, dan bisa menjadi kebanggaanku tentunya!

Nggak bisa nyanyi karena cadel? Ya kenapa nggak aku main musik saja dengan belajar piano atau biola? Nggak bisa main teater? Ya kenapa nggak aku membuat cerita atau menjadi script writernya saja? Dan berkat dorongan Mama yang sejak aku kecil mengikutsertakan aku ke les ini itu, kini sewaktu aku SMA, aku jadi punya banyak kelebihan yang yah… tentunya lumayan membuatku serta kedua orangtuaku menjadi bangga!

Terus apa hidup kemudian akan menjadi indah tentram sentosa selamanya untukku? Ah, ternyata belum juga! Buktinya tetanggaku yang bernama Nana itu, masih saja dan rasanya, makin giat untuk membuatku tidak hidup dengan tenang.

Ketika aku mampu menguasai sebuah keahlian, ia pasti akan ikut-ikutan menekuninya juga. Saat aku mengikuti lomba ini itu, ia juga kemudian akan membuntuti apa yang aku lakukan.

Kesal? Ada juga sih rasa seperti itu, jelas! Tapi di balik itu, entah kenapa ada rasa bangga yang terselip di antara rasa tidak mengenakkan yang ada. Ada rasa bangga yang membuat aku jadi tidak lagi pusing memikirkan apa yang harus aku lakukan agar ia bisa kalah dariku atau menyingkir untuk tidak lagi membuntutiku.

Dan lihat saja, ternyata Nana justru sering kelelahan untuk mencoba mengikuti keberagaman aktivitasku. Atau ketika kami ada dalam satu kompetisi, Nana sering kebingungan untuk menemukan cara agar bisa mengalahkanku.

Hingga suatu ketika, aku begitu kasihan melihat Nana yang tampak keletihan. “Na, bisa nggak sih kita bedamai saja? Jadi teman?”

Waktu itu, aku melihatnya terduduk lesu di sebuah taman setelah kami usai sama-sama mengikuti kompetisi lomba memasak yang kami ikuti di lingkungan perumahan tempat kami tinggal. Tentunya lagi-lagi, kali ini ia tidak bisa menang dariku meski aku pun cuma berhasil mencapai juara kedua di lomba itu.

Dengan sorot mata seperti biasa yang tidak bersahabat, Nana menatapku tajam. “Apa? Kalau aku berdamai dengan kamu, yang ada aku akan selalu jadi orang nomor dua yang dilihat oleh orang lain!”

Aku menggelengkan kepala tidak setuju. “Na, apa yang aku bilang ini bukannya bohongan lho. Kamu lebih cantik dayi pada aku. Meski aku juga cantik sih…” kataku sambil tersenyum.

“Kamu bisa nyanyi dengan suaya yang medu. Aku nggak bisa Na.”

Nana yang awalnya membuang muka, kini lalu mencoba menatapku.

“Kamu bisa akting bagus. Aku nggak bisa Na.”

Nana terdiam seakan mencoba merenungi ucapanku. Dan aku tidak ingin menyerah untuk meyakinkan Nana waktu itu. “Na, semua oyang punya kelebihan masing-masing kok. Jika kita jadi sahabat, kamu nggak akan dianggap sebagai oyang nomo dua.”

Aku lalu duduk di samping Nana mencoba menggenggam tangannya. “Na, masing-masing dayi kita akan jadi oyang nomo satu kok. Pada bidang yang bebeda tentunya. Kamu bisa jadi bintang di bidang nyanyi dan akting, aku bisa jadi bintang di bidang musik dan membuat ceyita teate.”

Nana mengeratkan genggaman tangannya. “Sori Ri, aku memang pecundang selama ini. Aku selalu iri dengan dirimu.”

Seperti akhir dari cerita-cerita yang selama ini ada, kami pun mengakhiri pertikaian kami dengan berpelukan tanda perdamaian. Ah… Teletubies sekali rasanya… Tapi yang jelas, sejak itu Nana tidak lagi memanggilku dengan kata Yiyi! Kan namaku Riri… Hehe… ini karena aku menuliskan cerita ini saja nih jadinya aku bisa menyebutkan namaku dengan benar…

Ponsel Idan

Oleh: Ika Maya Susanti

“Tampang cowok kamu memang keren sih… Kalau yang nggak tahu, mungkin barangkali dikiranya model! Tapi, aduh….” Elis mengelus keningnya berkali-kali.

Manda jadi bingung sendiri. “Kenapa Lis? Emangnya Idan kenapa? Kok kamu jadi ngelus-elus kening begitu? Emangnya Idan bisa bikin kening jadi gatel ya?” celutuk Manda sambil mengerdip-kerdipkan mata. Sebetulnya Manda tahu arah pembicaraan Elis. Namun sekali lagi, untuk kali ini Manda masih mencoba bersikap tenang.

“Ponselnya itu lho! Ih, cakep-cakep kok pakai ponsel jadul?!” ekspresi wajah Elis terlihat mengejek dengan bentuk bibirnya yang mengerucut lama sembari menyebut kata jadul.

“Eh udah, ngomong jadul ya jadul. Tapi nggak usah sampai monyong lama begitu dong,” tangan Manda mencoba menangkup bibir Elis karena gemas yang namun segera ditepis oleh Elis.

“Iih… apaan sih! Serius nih! Iya tuh Nda, bisa nggak sih kamu rubah penampilan jadul si Idan, cowokmu itu?!” protes Elis tak ada habis-habisnya.

Manda masih senyum dengan manisnya menanggapi protes dari Elis. “Aduh, kamu itu kenapa sih?! Orang Idan yang punya ponsel saja nggak ada masalah. Aku juga yang jadi pacarnya nggak kerasa keganggu tuh. Terus kenapa kamu jadi sibuk sendiri? Ah udah deh, aku mau pulang dulu. Udah ditunggu sama Idan tuh. Daagh…” Manda lalu berlalu sambil melambai ke arah Elis. Menurutnya jika ia terus-terusan ada di situ, pastinya Elis tidak akan ada habis-habisnya memprotes ponsel milik Idan.

Namun ucapan Elis mau tak mau mengganggu pikiran dan perasaan Manda. Manda memang pernah bertanya padda Idan. Namun ia tidak pernah mendapat jawaban jujur dari pacarnya tersebut. Dan saat sedang bersama Idan, Manda pun jadi penasaran untuk menanyakan masalah tentang ponsel milik pacarnya itu.

“Dan, kenapa sih kamu nggak ganti ponsel? Itu ponsel kan udah jadul banget. Aku jadi penasaran! Udah gitu, banyak banget tuh aspirasi dari teman-teman yang disampaikan ke aku melulu,” tanya Manda suatu ketika di akhir setumpuk rasa penasaran dari dirinya dan juga setumpuk kecapekan telinganya mendengar aspirasi dari teman-temannya.

Idan malah menggenggam ponselnya sambil ditunjukkan ke arah Manda. “Kamu tahu nggak Nda, ponsel ini tuh tahan banting. Untuk ngelempar anjing yang lagi rese juga bisa. Mantap beneran tuh kalau sampai kena! Dan kayaknya, mungkin nggak akan rusak kali buat ngelempar anjing rese!” jelas Idan sambil terkekeh.

Manda lalu mencubit lengan Idan dengan gemas. “Iiih…. aku serius nih! Awalnya sih aku nggak apa-apa. Tapi karena banyak banget orang yang protes lewat kupingku, akhirnya aku jadi penasaran juga nih!”

Idan lalu menggenggam tangan Manda. Sambil tersenyum, ditatapnya wajah Manda dalam-dalam. “Kamu lagi serius ya Nda. Kalau begitu aku nawar lima rius deh. Hehe… Sekarang aku ganti tanya, kamu malu ya Nda kalau punya cowok pakai ponsel jadul?” Nada suara Idan jadi ikut-ikutan benar-benar serius, membuat Manda jadi kikuk ditanya seperti itu.

“Nda, ponsel ini sangat dalam arti sejarahnya buat aku. Waktu itu ayahku hanya mampu membelikan ponsel ini ketika aku merengek-rengek ingin punya ponsel seperti teman-temanku. Pas aku jalan sama ayah habis pulang dari beli ponsel, ayahku diserempet orang sampai jatuh dan…” Idan tidak bisa meneruskan kata-katanya karena kemudian ia hanya bisa menunduk.

Manda memeluk Idan erat. “Kenapa kamu nggak pernah cerita tentang itu, Dan?” ujar Manda yang jadi merasa bersalah.

Idan melepas pelukan Manda. “Itu kenangan yang membuat aku selalu cengeng saat mengingatnya, Nda. Apalagi kalau harus cerita. Jadinya bikin aku harus menangis seperti ini. Hehe, jangan ketawa ya kalau lihat aku nangis. Ah, padahal aku ini kan cowok!” sambil malu-malu, Idan menyeka air matanya.

“Aku nggak akan ketawa kok, Dan. Tapi cuma tersenyum. Lihat nih!” Manda tersenyum semanis-manisnya untuk Idan. “Kamu tahu kan Dan, aku selalu menerima kekurangan kamu?”

“Makasih Nda. Oh iya, satu lagi. Keteguhan hatiku menjaga ponsel jadul ini juga bukti kalau aku ini tipe setia lho! Setia sama pemberian ayah, setia sama ponsel ini, dan juga mencoba setia sama kamu. Pokoknya aku ini cowok yang setia kok!” celoteh Idan yang membuat Manda tak tahan untuk memeluk Idan lagi.

“Aku juga nggak akan mudah melepas cowok seperti kamu kok, Dan! Seperti kamu yang nggak mudah melepas ponsel milikmu itu!” tekad Manda dalam hati.